Hikmah Perjanjian Hudaibiyyah

Perjanjian ini terjadi di suatu tempat bernama Hudaibiyyah yang terletak antara Madinah dan Mekkah, sehingga dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyyah atau Treaty of Hudaibiyya. Sejarah mencatat kejadian ini berlangsung pada bulan Maret 628 M (Dzulqaidah, 6 H). Jadi, jelas perjanjian ini lebih tua ketimbang perjanjian Magna Charta yang dibuat tahun 1215 Masehi yang selama ini dianggap dokumen hukum tertua di dunia.

Perjanjian ini lahir mengiringi periode awal syariat ibadah Haji yang diturunkan kepada Rasulullah SAW pada tahun ke-5 H. Ketika perintah ini turun, Rasulullah dan para sahabat berada pada posisi sulit, karena seluruh prosesi pelaksanaan ibadah Haji bertempat di Mekkah sedangkan pada saat itu Mekkah dikuasai oleh kaum kafir Quraish. Maka setelah dilakukan perundingan dengan para sahabat, akhirnya Rasulullah bersama sekitar 1400 kaum Muslimin memutuskan untuk menjalankan perintah Allah berangkat ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah Haji.

Untuk mendapat kepercayaan kaum kafir Quraish bahwa kedatangan Rasulullah dan kaum Muslimin adalah murni untuk melakukan ibadah Haji maka Rasulullah memerintahkan beberapa hal, pertama agar perjalanan dilakukan melalui rute yang tidak menimbulkan kecurigaan kaum kafir Quraish, kedua Rasulullah memerintahkan agar hewan hadyu untuk pelaksanaan ibadah haji ditandai agar tidak disangka sebagai kendaraan perang dan juga kaum Muslimin diperintahkan untuk melakukan perjalanan dengan pedang disarungkan untuk memperlihatkan bahwa perjalanan dilakukan bukan bermaksud untuk melakukan penyerangan.

Kaum  Quraisy, walaupun begitu tetap menyiagakan pasukannya untuk menahan Rasulullah dan para sahabat agar tidak masuk kota Mekkah. Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Rasulullah SAW kemudian menutus Utsman bin Affan untuk memberitahukan bahwa maksud kedatangan Rasulullah beserta rombongan kaum Muslimin bukan untuk berperang melainkan untuk melaksanakan ibadah Haji. Mereka kemudian balik mengirim utusan untuk memastikan maksud kedatangan Rasulullah beserta kaum Muslimin ke kota Mekkah dengan menanyakannya langsung kepada Nabi.

Agar perintah Allah SWT untuk melakukan ibadah Haji dapat tetap dilaksanakan, maka Rasulullah menawarkan perjanjian kepada kaum Quraish. Dua pihak yang terlibat langsung dalam perjanjian itu adalah Nabi Muhammad SAW dengan Suhail Bin Amr dan Ali bin Abi Thalib selaku pencatat. Suhail bin Amr adalah seorang tokoh suku Quraish. Seorang pemuda yang cerdas dan jelas ideologi kekafirannya yang merepresentasikan dan mengakomodir kepentingan kaum kafir. Tak heran kalau ia dijadikan delegasi pada perjanjian hudaibiyyah.

Kecerdasan Suhail nampak jelas pada proses pembuatan perjanjian tersebut. Tatkala Nabi berkata kepada Ali: Tulislah Hai Ali; Bismilahirohmanirohimm!”. Spontan Suhail menyanggah dengan mengatakan, “Saya tidak kenal kalimat itu tapi tulislah Bismikalaahuma!”. Ini sebenarnya pernyataan diplomatis dari  Suhail bin Amr. Ia secara menolak secara tidak langsung (indirect) usulan Nabi Muhammad SAW.

Suhail tahu bahwa kalimat “Bismilaahirohmanirohim” bukanlah semata kalimat yang hampa dari nilai. Tapi kalimat itu sarat dengan ideologi atau nilai yang dibawa oleh Rasululah yang bertentangan dengan ideologi Suhail dan yang diwakilinya (kaum kafir). Jadi, tidak salah kalau elit politik kalangan kafir memilih Suhail bin Amr sebagai delegasi. Selain menolak usulan kalimat dari Nabi SAW ia juga menawarkan kalimat lain sebagai pengganti yang tidak berseberangan dengan ideologi yang dibawa oleh Suhail.

Nabi kemudian mengusulkan kalimat perjanjian berikutnya: Ali tulislan! Perjanjian ini dibuat oleh Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr. Lalu serta merta Suhail berkata: kalau kami mengakui anda sebagai seorang Rosul mengapa kami susah-susah menghalangi kalian ke Baitullah dan memerangi kalian. Lalu Nabi balik berkata: “Saya adalah seorang Rosul meskipun kamu tidak mengakuinya”.
Lalu Suhail memerintahkan Ali: “Ali! Tulislah Perjanjian ini dibuat oleh Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr.

Lagi-lagi Suhail menunjukan kecerdasannya. Ia sadar seandainya ia menyetujui kata Rasulullah yang melekat pada nama Muhammad. Jika ia menyetujuinya berarti ia mengakui pula bahwa memang betul Muhammad itu adalah seorang Rosul. Berbeda konsekuensinya dengan Muhammad Bin Abdullah yang mengindikasikan Muhammad itu tidak lain adalah seorang manusia biasa anak dari Abdullah.

Kali ini Ali –dengan keimanannya- menolak dengan tegas untuk mengganti kalimat Muhammad Rasulullah dengan Muhammad bin Abdullah, akan tetapi Rasululah berkata: “Wahai Ali, tunjukkanlah dimana tempatnya!, Aku sendiri yang akan menghapusnya”.

Hikmah dari dialog antara Rasulullah SAW dengan Suhail ini adalah Nabi mencontohkan kepada ummat Islam agar harus senantiasa menjadi pemrakarsa (pioneer) atau pengambil inisiatif (initiator) dalam berbagai bidang. Masalah apakah inisiatif itu diterima atau tidak itu adalah tergantung dari perjuangannya kemudian.

Kemudian fakta sejarah dari dialog antara Nabi SAW dengan Ali ra – “Wahai Ali, tunjukkanlah dimana tempatnya!, Aku sendiri yang akan menghapusnya”- menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW betul-betul Nabi yang ummi atau tidak bisa baca-tulis, Al-Qur’an adalah kebenaran dari Allah SWT yang diwahyukan kepada Beliau.

Mengenai Klausul atau Pasal-pasal Perjanjian Hudaibiyyah adalah intinya sebagai berikut

  • Gencatan senjata antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun.
  • Kaum Muslimin mempunyai kewajiban untuk mengembalikan setiap orang Quraisy yang datang ke Madinah meskipun orang itu datang dalam keadaan berislam, apabila orang tersebut datang tanpa ijin Quraisy.
  • Kaum Quraisy tidak perlu mengembalikan orang muslim yang kembali ke Makkah.
  • Kabilah yang ingin bergabung dengan pihak Muslimin boleh bergabung. Kabilah yang ingin bergabung dengan Quraisy juga boleh bergabung. Maka kabilah Khuza’ah bergabung dengan kaum Muslimin. Dan Bani Bakr bergabung dengan kaum Quraisy.
  • Kaum Muslimin harus kembali pada tahun tersebut. Mereka boleh berumrah mulai tahun berikutnya, dengan beberapa syarat:
  1. Kaum Muslimin memasuki Mekkah tanpa senjata, kecuali pedang yang disarungkan.
  2. Kaum Muslimin memasuki Mekkah setelah Quraisy keluar dari Makkah.
  3. Kaum Muslimin tidak boleh tinggal di Makkah lebih dari tiga hari.

Hikmah dari Perjanjian Hudaibiyyah

  • Kaum Muslimin mendapatkan kesempatan untuk memerangi Yahudi dan menaklukkan Khaibar.
  • Rasulullah SAW mempunyai kesempatan, untuk menyebarkan dakwah dan menyebarkan surat kepada para raja dan pemimpin.
  • Kaum Quraisy mengakui kedudukan kaum Muslimin. Hal ini memberikan pengaruh kepada kabilah-kabilah Arab yang lain.
  • Orang Quraish yang datang bergabung dengan kaum Muslimin telah benar-benar menunjukkan keimanannya, sehinga walaupun kaum Muslimin berkewajiban mengembalikan, tapi secara individu yang bersangkutan tidak akan mungkin bersedia untuk dikembalikan.
  • Tapi sebaliknya seseorang yang keluar untuk bergabung dengan kaum kafir Quraish telah menunjukkan kepalsuan keimanannya, sehingga tidak menjadi kerugian bagi ummat muslim jika kaum Quraish tidak berkewajiban untuk mengembalikan orang tersebut.
Iklan
%d blogger menyukai ini: