Berpegang pada Qur’an dan Sunnah

Allah ta’ala menciptakan kita bukan dengan kesia-siaan dan main-main saja namun dengan suatu tujuan agung sebagaimana Allah berfirman:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariat: 56)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Sesungguhnya Aku ciptakan mereka untuk Aku perintah mereka beribadah kepadaku , tidak karena Aku membutuhkan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan tidaklah kita bisa mengetahui cara beribadah kecuali dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebagai wujud rahmat Allah terhadap makhluk-Nya, diutuslah seorang utusan Allah untuk menyampaikan risalah ini, sehingga manusia tahu cara beribadah kepada Penciptanya.

لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

 “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imron: 164)

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 67)

 Dari Allah ta’ala risalah (Al-Qur’an) berasal dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan, sedangkan kewajiban kita menerima. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengemban kewajibannya dengan sebaik-baiknya, telah menyampaikan risalah ini lengkap dan sempurna. 

Allah ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maaidah: 3)

Maka tidak ada satu pun yang dibutuhkan umat baik sekarang maupun akan datang kecuali telah disampaikan oleh Rasulullah.

Di dalam Shahih Muslim dari Salman radhiyallahu ‘anhu berkata: Dikatakan kepadanya: “Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun tentang buang air?” Apakah kira-kira jawabannya para pembaca? Beliau menjawab: “Ya.” Begitu pula Abu Dzar: “Rasulullah telah meninggalkan kita sementara tidaklah ada burung yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali di sisi kami ada ilmu darinya.” (Dikeluarkan Abu Hatim dan Ibnu Hibban di sahihnya dan disahihkan pula oleh Syaikh Al Albani rahimahumullah)

Berkata Ibnul Qayim rahimahullah: “Dan telah wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara tidaklah burung membalikkan kedua sayapnya di langit kecuali beliau sebutkan kepada umat ilmu darinya dan beliau ajarkan kepada mereka segala sesuatu sampai adab ke kamar mandi dan adab bergaul dengan istri, tentang tidur, berdiri, duduk, makan, minum, menaiki kendaraan, turun, bepergian, mukim, diam, berbicara, menyendiri, bergaul, kaya, fakir, sehat, sakit, dan seluruh hukum-hukum hidup, mati, dan beliau menyifatkan kepada mereka ‘Arsy dan kursinya Allah ta’ala, malaikat, jin, neraka, surga, dan hari kiamat dan sesuatu yang ada pada hari tersebut hingga seperti terlihat dengan mata kepala sendiri. Dan beliau mengenalkan kepada mereka sesembahan mereka yang hak dengan sempurna, hingga seolah-olah mereka melihat-Nya dan menyaksikan-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan kemuliaan-Nya. Dan beliau pun mengenalkan kepada mereka tentang para nabi dan umat-umat mereka dan apa yang para nabi alami baik perkara yang menyenangkan ataupun yang merugikan bersama kaumnya. Begitu jelas kisah-kisah tersebut hingga seolah-olah umat (kita) bersama mereka (para nabi). Dan beliau mengenalkan kepada umat jalan-jalan kebaikan dan keburukan yang samar maupun yang terang di mana itu semua belum pernah dikenalkan oleh seorang nabi pun sebelum beliau kepada umatnya. Dan demikian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kenalkan kepada mereka dari dalil-dalil tauhid, kenabian dari hari kembali serta bantahan terhadap seluruh kelompok-kelompok kafir dan sesat dengan model penjelasan yang bagi orang yang menerima penjelasan tersebut tidak butuh lagi penjelasan sesudahnya, Allahumma kecuali masih membutuhkan terhadap orang yang menyampaikan kepadanya dan menjelaskan apa yang samar/tidak jelas baginya.

Secara umum disimpulkan bahwa beliau datang kepada umat ini dengan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Maka bagaimana syariat yang sempurna tersebut, yang mana tidak pernah ada syariat yang lebih sempurna di alam ini, disangka kurang sempurna? Dan barang siapa yang menyangka seperti itu maka kedudukannya seperti orang yang menyangka manusia masih butuh kepada rosul lain sesudah beliau. Dan sebab ini seluruhnya adalah samarnya syariat yang dibawa beliau bagi yang menyangka demikian itu dan sedikitnya pemahaman, yaitu pemahaman (yang dimaksud) yang Allah anugerahkan kepada para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum yang mereka ini merasa cukup dengan syariat yang beliau bawa dan tidak butuh kepada ajaran sesudahnya…”

Ketahuilah bahwa syariat beliau yang sempurna ini adalah sunnahnya dengan pengertian sunnah secara umum, karena sunnah beliau jika disebutkan secara mutlak ada 4 macam:

 1. Sunnah dengan arti seluruh apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, itulah sunnah beliau dan itulah jalan yang beliau tempuh. Di antara contoh sunnah dengan arti ini adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Maka barang siapa yang membenci sunahku bukanlah golonganku.” (diriwayatkan oleh Al Bukhari 5063 dan Muslim 1401)

 2. Sunnah dengan makna Al Hadits, itu jika digandengkan dengan Al Kitab, sebagai contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Sesungguhnya saya telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan pernah tersesat kalian sesudahnya yaitu kitabullah dan sunahku” (diriwayatkan Al Hakim di dalam Mustadraknya 1/93)

 3. Sunnah dimutlakkan sebagai lawan dari bid’ah, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah yang artinya: “Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur mahdiyin rosyidin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shahih)

 4. Bahwa sunnah disebutkan terkadang dengan makna mustahab (tidak wajib dilakukan), misalnya tentang sebuah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam bentuk tidak adanya keharusan, semisal sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Kalaulah tidak memberatkan umatku tentu akan aku perintahkan mereka bersiwak di setiap shalat”. Nah, sunnah dengan makna keempat inilah yang sering digunakan oleh ahli fikih dalam kitab-kitab mereka.

Sesungguhnya suatu hal yang tidak pernah kaum muslimin berselisih tentangnya sejak dulu sampai sekarang adalah bahwa jalan yang Allah ridho untuk kita adalah jalan Al-Qur’an dan As Sunnah. Yang demikian itu karena Allah ta’ala telah jamin keistiqomahan (lurus) bagi orang yang mengikutinya, Allah ta’ala berfirman:

قَالُوا يَاقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ

 “Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus’.” (QS. Al Ahqof: 30)

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

 “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. As Syuro: 52)

 Allah ta’ala juga menjamin bagi orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab selamat dari ketersesatan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى

 “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

 Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah memberikan pahala bagi orang yang mengikuti Al-Qur’an dari kesesatan di dunia atau dari celaka, beliau berkata : “Tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat (Durul Mantsur 5/601 dishahihkan oleh Al Hakim).

Dalam sebuah riwayat lain beliau berkata: “Barang siapa mempelajari Kitabulloh kemudian mengikuti apa yang ada di dalamnya, Allah beri petunjuk dia dari ketersesatan di dunia dan menjaga dia pada hari hisab dari jeleknya hisab. (Misyhah Masabih 1/67).

 Dan mengikuti Al-Qur’an mengharuskan mengikuti Al Hadits, karena di dalam Al-Qur’an terdapat ayat:

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

 Jadi keselamatan dari ketersesatan akan kita raih (di samping berpegang teguh dengan Al-Qur’an) juga dengan berpegang teguh kepada Al Hadits.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Aku meninggalkan di tengah-tengah kalian dua pegangan yang tidak akan pernah sesat setelahnya: Kitabulloh dan Sunnahku.” (hadits hasan diriwayatkan Al Hakim dan Malik).

Dan Al-Qur’an dan Al Hadits yang kemudian diistilahkan dengan “As Sunnah” jalan yang dilalui oleh Rasulullah, barang siapa berpegang teguh dengannya akan selamat.

 Az Zuhri berkata: “Di antara orang dahulu dari ulama kami berkata: Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As Sunnah akan selamat” (diriwayatkan Ad Darimi dalam sunannya).

Al Baihaqi mengeluarkan dengan sanad dari Malik: “As Sunnah ibarat kapal nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya akan selamat dan barang siapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.”

%d blogger menyukai ini: