Hakikat Iman

Mungkin kita ingat bahwa pernah ada salah satu tokoh pemimpin negeri ini secara tidak langsung mengatakan bahwa semua agama adalah benar dengan statementnya yang menyatakan nasrani dan yahudi tidaklah termasuk kafir, alasannya karena mereka mengakui adanya Allah padahal Allah SWT telah menegaskan kekufuran mereka dalam Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah.

Iman bukan sekedar ucapan lisan

Seseorang yang hanya mengaku bahwa dirinya orang beriman belumlah cukup. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal yang serupa, tetapi hatinya mengingkari statemennya sendiri.

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar..

(QS. Al-Baqarah (2) : 8-9).

Iman tidak sebatas amal perbuatan

Amal sholeh secara lahiriah merupakan ciri khusus perbuatan orang beriman. Akan tetapi, orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara permukaan mengerjakan ibadah dan berbuat baik (fi’lul khoir), sedangkan hatinya kontradiksi dengan penampakan lahiriahnya. Apa yang dikerjakan tidak didasari kemurnian niat untuk mencari ridha Allah Swt

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

(QS. An-Nisa (4) : 142).

Iman bukan sekedar pengetahuan

Tidak sedikit orang yang mendalami hakikat dan makna iman, tetapi mereka tetap saja ingkar

Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.

(QS. An-Naml (27) : 14),

Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

(QS. Al-Baqarah (2) : 146).
Iman tidak dicampuri keragu-raguan

Iman membutuhkan penerimaan oleh akal hingga mencapai keyakinan yang benar-benar kuat, tidak lentur dengan perasaan bimbang.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

(QS. Al-Hujurat (49) : 15).

Iman adalah kepatuhan

Iman di samping menuntut adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kokoh, dia juga mensyaratkan adanya kepatuhan hati,

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

(QS. Al-Baqarah (2) : 285).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(QS. An-Nur (24) : 51),

Iman adalah kesediaan dan kerelaan

Orang yang beriman menjalankan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, serta ulil amri yang dipilih-Nya dengan kerelaan sepenuh hati

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

(QS. An-Nisa (4) : 65),

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

(QS. Al-Ahzab (33) : 36).

Iman menuntut amal sholeh

Iman sepatutnya membangkitkan semangat untuk beramal, berjuang dengan harta dan jiwa, sesuai dengan yang dituntut oleh iman itu sendiri dan kewajiban orang beriman

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,

(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

(QS. Al-Anfal (8) : 2-4).

Gambaran orang beriman

Dalam menyajikan ilustrasi tentang iman, Al-Quran selalu mengambil bentuk sebagai perilaku terpuji dan amal yang mendatangkan manfaat, yang merupakan garis pembeda antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya

(QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).

Iman vs Kufur

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa iman tidak cukup hanya sekedar pengakuan atau sekedar amal perbuatan, bukan pula sebatas pengetahuan tentang rukun Iman. Iman yang benar adalah keyakinan yang terhunjam di kedalaman hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan seluruh anggota tubuh, keyakinan bulat, tiada keraguan sedikit pun dan mampu mempengaruhi orientasi kehidupan.

Maka dengan demikian Istilah “iman” dalam Islam bukan terminologi relatif, sehingga  istilah “setengah beriman” pun tidak akan pernah ada didalam Islam. Pilihannya hanya ada dua, kalau tidak beriman berarti kufur, atau hanya sekedar pura-pura beriman tetapi hakikatnya tetap saja kufur.

Iklan
%d blogger menyukai ini: