Benarkah “Kebenaran” itu relatif..??

Ada yang berpendapat, kebenaran itu ada tetapi relatif dan nisbi. Tergatung orang dan zamannya. Jika betul menurut Anda, maka belum tentu menurut saya. Betul pada masa dahulu, maka belum tentu betul untuk masa sekarang. Atau betul di sebuah tempat, maka belum tentu betul di tempat lain

Di dunia ini selalu ada baik dan ada buruk. Ada keselarasan dan ada pula pertentangan. Ada berlimpah dan ada pula kekurangan. Ada terang dan ada pula gelap. Ada maju dan berkembang dan ada pula mandek dan stagnasi. Adanya baik, selaras, berlimpah, terang dan berkembang memiliki nilai yang sangat penting. Sedangkan adanya buruk, gelap, pertentangan, mandek, adalah subsider dan sekunder yang berperan menyebabkan keberadaan yang baik dan selaras.

Propaganda “manis” yang mengumpamakan semua agama itu adalah hanya “jalan yang berbeda-beda untuk menuju Tuhan yang sama” tidak mungkin bisa diterima, karena untuk menuju tujuan yang sama, tentu harus punya persamaan persepsi dan pedoman tentang tujuan yang dimaksud. Bagaimana jika perumpamaannya dibalik. “Semua berjalan mencari satu tujuan yang sama akan tetapi petunjuk dan pedoman arah yang digunakan berbeda” tentu saja akan ada yang berhasil mencapai tujuan dan ada yang tidak.

Dengan demikian berjalan pada petunjuk dan pedoman arah yang sesuailah yang akan menyebabkan sampai pada suatu tujuan. Kita diberi kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Kenapa? Bukan karena agama itu sama-sama benar –dan tidak mungkin semua agama itu “benar” – tapi karena “kebenaran dan kesesatan” telah jelas (qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy). Ini adalah sindiran dari Allah s.w.t. bagi mereka yang memilih jalan kesesatan.

Konsep aqidah dalam Islam –Al-Quran dan sunnah—dijelaskan oleh Allah s.w.t. dan Nabi Muhammad s.a.w. dengan sangat detail. Maka istilah ‘haq-batil’ bukan terminologi relatif. Ia merupakan istilah “final” dan jelas batasannya, tidak bisa dikutak-katik lagi..

Bagi kaum yang berfikir  -perbedaan antara Haq dan Batil-  akan terlihat sangat  jelas, sejelas perbedaan antara siang dan malam, sejelas perbedaan antara terang dan gelap, karena jika ada iman, maka akan ada kufur. Jika ada kebenaran maka ada kesesatan.

Jadi apa sebetulnya yang kita cari? Kebenaran? Ataukah Pembenaran?

Iklan
%d blogger menyukai ini: